Antusias anak-anak melihat bengkel KRL dan KRL yang sedang diperbaiki diimbangi dengan antusias orang tuanya menanyakan kepastian jadwal,
Friday, May 23, 2008
KRLMania goes to Depo KRL Depok
Antusias anak-anak melihat bengkel KRL dan KRL yang sedang diperbaiki diimbangi dengan antusias orang tuanya menanyakan kepastian jadwal,
AC Ekonomi Bogor - Jakarta - Bogor pp
Monday, February 25, 2008
My Journey to Red-Land called Distrik Babo - Papua Barat
Perjalanan diawali dengan B 737 - 400 punya MNA tujuan Uj Pandang d
Landing di Babo Airport jam 0935 WIT langsung naek ojeg (ga nyampe 3 km ongkosnya ceban..) nunggu boat buat nganter ke LNG site. Setelah puas nunggu selama 5 jam, pas jam 3 siang boat lepas tali buat anter kita (gw dan 4 org subcont perush gw) ke LNG site.
Pas jam 1605 nyampe di Combo - Dock dan dijemput oleh driver dengan Ford Ranger Double Cabin -khas proyek banget ni mobil-. Dapet akomodasi di module (kontainer yang disulap jadi kamar2) di sebelah modul klien.
next story... LNG Tangguh ep 1.
Sunday, January 27, 2008
...HMS Passed Away....
Minggu 27 Januari 2007, pukul 13.10 merupakan hari, jam dan menit terakhir yang diberikan Allah SWT kepada Haji Muhammad Soeharto.
Tuesday, January 8, 2008
KRL Ekonomi AC Southline Manggarai - Depok vv
Nyampe MRI jam 1730 masih ada waktu sedikit, loket tiket Ekonomi AC di sta MRI dibedakan dengan loket Ekonomi Kipas.
KRL jenis Tokyu 1000 sudah 'ngejogrok' (bahasanya petugas loket Cawang) manis di peron 5, hmm kenapa di peron 5 ya..mirip KRL eco balik yang jam 1700 atau jam 1800. Jadi penumpang yang mau ke arah Kota pindah nunggu di peron 3. Cuma karena rangkaiannya 10 gerbong, ini KRL jadi menuh2in peron, hasilnya penumpang naik dengan penuh perjuangan dari arah stasiun hall.
Di setiap gerbong dijaga oleh 1 petugas KL dan mungkin karena KRL ini sudah didedikasikan sebagai KRL Ekonomi AC maka plat nomor tempat duduk yang biasa ditempel di dinding kereta pun tidak ada. Perjalanan KRL dimulai dengan take off yang molor 2 menit (1747), setelah menunggu rangkaian Pakuan / Depok Ekspress melenggang di jalur 6. Sampai di stasiun Tebet ada temen lama sehingga kamipun ngobrol. Cuma saat berangkat dari sta Durenkalibata KRL sempet berhenti sebentar (mesin mati, lampu mati). Hmm ada apa nih ?.. Ga lama ada sms dari member milis yang menyebutkan ada rangkaian yang bermasalah di depan KRL Pakuan THB 1712 yang dinaikinya. Wah.. pasti ada yang mogok nih. Petugas KL yang selalu memeriksa karcis mulai dari MRI, TEB, CWG dan DRN mulai menunjukkan ketegasan saat seorang bapak menyerahkan karcis ekonomi kipas,
Petugas : "Bapak..bapak, ini karcis ekonomi biasa.."
Bapak : "Maaf pak saya ga tau."
P: "Kan sudah diumumin tadi di stasiun.."
(karcis ekonomi masih dipegang petugas)
B: "Iya saya baru dateng langsung naik.."
P: "Ya udah, begini, ada duit 30 ribu, saya denda?"
B: "Wah ..ga ada.."
P: "Ya udah nanti turun di stasiun berikutnya.."
Si Kepala Hitam terus merayapi jalurnya, dan di Stasiun PSM, KRL mengarah ke jalur 1 dengan suguhan menarik di jalur 2 berupa KRL Ekonomi Kipas yang mogok. Hmm sepertinya KRL Ekonomi AC ini akan berubah menjadi KRL Ekonomi AC tapi panas. Sesaat ke-4 pintu dibuka, berhamburan (kok berhamburan ...bahasanya) penumpang eks ekonomi kipas menyeruak. Maka obrolan dengan kawan lama itu pun terputus.
Tinggal petugas KL yang seorang diri kebingungan, tapi dedikasi terhadap pekerjaan ditunjukkan sang petugas.
Petugas : "Karcis pak ?"
Penump eks eko mogok : "Ekonomi biasa"
Petugas : "Jangan naik yang ini dong."
Penump eks eko mogok (ramai2) : "Orang ekonominya mogok gimana dong?"
Petugas : (diam dan kontak ke radio / HT yang dibawa) , " Gimana nih kereta ekonomi macet ?"..
Akhirnya selepas stasiun PSM ga ada lagi pemeriksaan karcis. Mau liat sesaknya KRL Southline kemarin ? Ada di lampiran foto.
Selepas stasiun LA, pengeras suara berbunyi..." Pak KP, Pak KP...", terus berbunyi lagi, "Pak KP, Pak Su****...", wah pak KP yang biasa di Depok Ekspress sedang tugas disini. Downgrade atau demosi nih ??. Setelah itu baru ingat, om Bayu katanya udah rajin naik KRL ini, nelpon en om Bayu merangsek maju dari gerbong 4.
Bagaimana kalau kasus ekonomi mogok ini terjadi setiap hari ?
Bagaimana nasib penumpang ekonomi kipas yang mogok dan ditransfer ke ekonomi AC?
Apakah mungkin KRL ini 'jujur' melintasi South Line yang rutenya MRI - BOO bukan MRI - DEP?
Sebelum berhenti di stasiun akhir, Depok, melalui pengeras suara diberitahukan pengumuman KRL mengakhiri perjalanan di stasiun Depok, plus ada ucapan sang masinis / KP, .."Ibu Nur.... ikut ke Dipo gak ?..."... mailto:????@#%25 kacau nih..
*pemegang.tiket.cikini-bogor.pakuan.ekspress.tarif.diskon
http://bigbojong.blogspot.com/
Sunday, December 30, 2007
Aortic aneurysm
Goals of Treatment
Some aneurysms, mainly small ones that are not causing pain, can be treated with "watchful waiting." Others need to be treated to prevent growth and complications. The goals of treatment are to prevent the aneurysm from growing, prevent or reverse damage to other body structures, prevent or treat a rupture, and to allow you to continue to participate in normal daily activities.
Treatment Options
Medicine and surgery are the two types of treatment for an aneurysm. Medicines may be prescribed before surgery or instead of surgery. Medicines are used to reduce pressure, relax blood vessels, and reduce the risk of rupture. Beta blockers and calcium channel blockers are the medicines most commonly used.
Surgery may be recommended if an aneurysm is large and likely to rupture.
Treatment by Type of Aneurysm
Aortic Aneurysm
Experts recommend that men who have ever smoked (at least 100 cigarettes in their lifetime) and are between the ages of 65 and 75 should have an ultrasound screening to check for abdominal aortic aneurysms.
Treatment recommendations for aortic aneurysms are based on the size of the aneurysm. Small aneurysms found early can be treated with "watchful waiting."
If the diameter of the aorta is small—less than 3 centimeters (cm)—and there are no symptoms, "watchful waiting" and a follow-up screening in 5 to 10 years may be all that is needed, as determined by the doctor.
If the aorta is between 3 and 4 cm in diameter, the patient should return to the doctor every year for an ultrasound to see if the aneurysm has grown.
If the aorta is between 4 and 4.5 cm, testing should be repeated every 6 months.
If the aorta is larger than 5 cm (2 inches around or about the size of a lemon) or growing more than 1 cm per year, surgery should be considered as soon as possible.
Two main types of surgery to repair aortic aneurysms are open abdominal or open chest repair and endovascular repair.
The traditional and most common type of surgery for aortic aneurysms is open abdominal or open chest repair. It involves a major incision in the abdomen or chest. General anesthesia is needed with this procedure.
The aneurysm is removed and the section of aorta is replaced with an artificial graft made of material such as Dacron?or Teflon? The surgery takes 3 to 6 hours, and the patient remains in the hospital for 5 to 8 days. It often takes a month to recover from open abdominal or open chest surgery and return to full activity. Open abdominal and chest surgeries have been performed for 50 years. More than 90 percent of patients make a full recovery.
In endovascular repair, the aneurysm is not removed, but a graft is inserted into the aorta to strengthen it. This type of surgery is performed through catheters (tubes) inserted into the arteries; it does not require surgically opening the chest or abdomen.
To perform endovascular repair, the doctor first inserts a catheter into an artery in the groin (upper thigh) and threads it up to the area of the aneurysm. Then, watching on x ray, the surgeon threads the graft (also called a stent graft) into the aorta to the aneurysm. The graft is then expanded inside the aorta and fastened in place to form a stable channel for blood flow. The graft reinforces the weakened section of the aorta to prevent the aneurysm from rupturing.
The illustration shows the placement of an endovascular stent graft in an aortic aneurysm. In figure A, a catheter is inserted into an artery in the groin (upper thigh). It is then threaded up to the abdominal aorta, and the stent graft is released from the catheter. In figure B, the stent graft allows blood to flow through the aneurysm.
Endovascular repair surgery reduces recovery time to a few days and greatly reduces time in the hospital. The procedure has been used since 1999. Not all aortic aneurysms can be repaired with this procedure. The exact location or size of the aneurysm may prevent the stent graft from being safely or reliably positioned inside the aneurysm.
Cerebral Aneurysm
Treatment for cerebral (brain) aneurysms depends on the size and location of the aneurysm, whether it is infected, and whether it has ruptured. A small cerebral aneurysm that hasn’t burst may not need treatment. A large cerebral aneurysm may press against brain tissue, causing a severe headache or impaired vision, and is likely to burst. If the aneurysm ruptures, there will be bleeding into the brain which will cause a stroke. If a cerebral aneurysm becomes infected, it requires immediate medical treatment. Treatment of many cerebral aneurysms, especially large or growing ones, involves surgery, which can be risky depending on the location of the aneurysm.
Peripheral Aneurysm
Most peripheral aneurysms have no symptoms, especially if they are small. They seldom rupture.
Treatment of peripheral aneurysms depends on the presence of symptoms, the location of the aneurysm, and whether the blood flow through the artery is blocked. Blood clots can form in a peripheral aneurysm, break loose, and block the artery.
An aneurysm in the back of the knee that is larger than 1 inch in diameter usually requires surgery. An aneurysm in the thigh also is usually repaired with surgery.
Monday, December 24, 2007
CILIWUNG
Sunday, December 23, 2007
...Trip to Lee Kwan Yu's country.. Days 02
Pemanasan global dan kontribusi penumpang KRL


Lihat perbedaannya dengan KRL yang pake pantograf (alat penghubung listrik dari aliran atas ke aliran bawah).
Cuma sayangnya kontribusi yang besar penumpang KRLTIDAK DIANGGAP oleh Pemerintah RI dengan manajemen perkeretapian yang baik...MRT Singapore vs Pakuan Ekspress Jabotabek
Poto 1. MRT di Singapore saat sibuk...
Poto 2.Pakuan Ekspress Tanah Abang - Bogor (ETD 1920).
*KRLMania...
Wednesday, November 21, 2007
...Trip to Lee Kwan Yu's Country...Day 01
Berangkat dari Bogor menuju Cengkareng, Take Off jam 16:30, well on time dengan GA 832.
Landing dengan mulus di Changi Airport jam 19:05 waktu Sing yang lebih cepet 1 jam dari Jakarta. Langsung queue up di Taxi Queue Line... mendarat di Royal @ Queens Hotel dan langsung cari makan bareng temen yang udah duluan nyampe. Abis dari Bugis Junction tempat kita makan balik ke hotel buat istirahat. Sesekali ambil foto suasana malam di Sing.
Foto 1 & 2 pas mo nyebrang di Victoria Street deket National Library. Ternyata naik becak di Sing lebih mahal daripada naik taksi.
...bersambung ke edisi berikutnya
Monday, October 22, 2007
...happy family...
Wednesday, October 17, 2007
..12 September 2007..

Monday, August 20, 2007
Tips Memilih Buah-buahan
Tips Memilih Buah-buahan
1. Durian :
* yang durinya sudah melebar dan daging durinya sudah agak lunak.
* aromanya harum dan kulitnya tdk ada yg bolong* kalau dipukul2 bunyinya buk ..buk…berat mantep (nggak garing kosong).* lihat tangkainya (dipotong sedikit), kalau tengahnya kuning berarti bagus.* jangan pilih yang bulat bagus, tapi yang bentuknya agak aneh, biasanya bagus.
2. Mangga :* pilih mangga yg bonggolnya (ujung tangkainya) berwarna kuning/kekuningan.* pilih yang harumnya manis sampai ke ujung buah.* di pangkalnya harum dan lebar. Kulitnya mulus dan kencang, tidak mengkerut. Keseluruhan buah aromanya harum manis.* pilih yg warna hijaunya agak tua buram dan bebintik hitam.
3. Jeruk :* pilih yg warnanya kuning betul bukan kuning terang.* pilih yg kulitnya tipis dan mengkilat.* khususnya jeruk medan pilih yang berat, trus ada lekukannya dikit (kalau diraba dengan jempol ada deko’ annya) cari yg dekoannya empuk.
4. Semangka/Melon utuh :* semangka biasanya ditepuk-tepuk utk. mendengar ‘kopong’ enggaknya. Semakin kopong berarti kurang banyak airnya, kurang seger.* melon, pilih yg wangi.* perhatikan bagian patahan tangkainya, pilih yg buletan tangkainya kelihatan mekar.* pilih melon yg guratan uratnya banyak dan tebal. Menurut Trubus ini tanda buah sudah mateng pas dipanen.* pilih melon yg kerasa bijinya sudah pada lepas saat buah digoncang
5. Alpukat :* kocok-kocok alpukat, pilih yg berbunyi, tandanya tua.* pilih yg kulitnya mulus.
6. Duku :* kulitnya tipis dan lembut dan agak kehitaman artinya udah masak dan manis. Tapi, kalau warna coklat dan agak berair itu tandanya busuk.Manggis :* pilih yg kulitnya lembut bila dipencet/raba.* warnanya ungu tua segar. Raba dulu seluruh permukaan, kalo ada yang keras itu artinya bagian tsb masih mentah atau busuk. Tangkainya utuh dan hijau segar. Manggis kecil malah lebih bagus ketimbang yang ukuran besar yang biasanya matangnya tidak merata.* kalau ada wadah air, cemplungin manggis ke dalam air. Manggis yg terapung tandanya bagus. [dari Trubus]
Dapat dari milis greenpeace indonesia, penulisnya mbak Sri Lestari
Categories:
Sunday, August 19, 2007
...31 tahun yang lalu...
Di tengah heningnya pagi, di Rumah Sakit Bersalin Melania yang terletak di daerah Matraman, Jakarta Timur, lahirlah sesosok bayi laki-laki dengan kulit yang memerah yang selanjutnya diberi nama Erwin Patrisa Floris. Si jabang bayi ini cukup berat dengan bobot saat lahir 2,9 kg dan panjang 50 cm menengok dunia untuk pertama kalinya dengan tangisan yang memekakkan telinga.
31 tahun setelah itu, bayi tersebut bertransformasi menjadi sosok Ayah dari Balqis Fathian Azra dan Afthar Fathiandra Muhammad serta Suami bagi Patricia Yulia Harliani.
Saturday, July 28, 2007
Gangguan Sinyal Gara-gara Kabel Dicuri (LAGI ??)
Berikut tulisannya..
DARI data saya pribadi Januari 2005 - 2007 sekarang, tercatat 43 kali masalah sinyal di Manggarai, baik yg kecil mudah diatasi sampai yg berat menggemparkan kayak pagi ini.Dari 43 kasus tsb :
- 31 kali terjadi hari JUMAT (baik jumat pagi, maupun jumat sore)
- 24 kali terjadi pada JUMAT minggu pertama dan atau minggu terakhir
- TIDAK ADA gangguan sinyal yg terjadi pada HARI LIBUR RESMI (samiraya).
- 30 kali 'ngakunya' kehilangan kabel [nggak kapok kapok deh.. cuih.. gak pernah mau belajar dari kesalahan kalo ini sih]
- Selain kabel yg dicuri, gangguan yg pernah terjadi adalah listrik padam [2x], bocah kejepit wesel [1x], korslet rel [1x], putus karena tua [1x], wesel diganjal orang iseng pakai batu [3x].
Data pribadi, bukan data PT KA.
Itulah wajah perKRLan di Indonesia terutama Jabotabek.
Stasiun yang tidak steril, penanganan kasus pencurian yang tidak pernah tuntas, dsb menyebabkan pelayanan yang bisa dibilang jauh dari kata optimal apalagi maksimal.
Well, This is only in Indonesia.....
Mengatur Kereta Api dengan Sinyal
JAKARTA - Cerita ini bermula dari Stasiun Slawi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, akhir Januari lalu. Siang itu, Stasiun Slawi tercatat sebagai yang pertama menggunakan sistem sinyal elektrik buatan negeri sendiri. Harapan pun muncul. Harapan untuk memugar wajah sistem persinyalan kereta api Indonesia. Mengganti sistem sinyal kereta api luar negeri dengan buatan lokal.
Itulah harapan yang dirintis setelah PT Lembaga Elektronika Nasional (LEN) mengembangkan Sistem Interlocking LEN (SIL-02). SIL-02 merupakan sistem sinyal elektrik pertama buatan dalam negeri yang akan mengatur lalu lintas kereta api. Jika sistem ini jadi diterapkan di seluruh jalur di Indonesia, sang operator di ruang kendali stasiun tidak perlu bersusah payah lagi. Tinggal memencet tombol pada panel kendali, sinyal elektrik akan segera mengatur lalu lintas kereta api.
Menurut Direktur PT LEN Dodi Hidayat Rivai, buah kerja LEN ini sebenarnya sudah dirintis sekitar tiga tahun lalu. Selain bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia, LEN juga bekerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Pihak BPPT, kata Dodi, yang bertugas mengaudit kelaikan teknologi yang diterapkan LEN. Biaya yang dikeluarkan untuk mengembangkan satu sistem sinyal elektrik itu, kata dia, sekitar Rp 6 miliar. Secara umum, Dodi memaparkan, SIL-02 terdiri dari peralatan lapangan dan peralatan di ruang operator. Yang dimaksud dengan komponen lapangan adalah lampu sinyal, motor wesel untuk mengatur jalur rel, serta sirkuit rel untuk menentukan posisi kereta. Komponen itu akan aktif setelah sistem kunci (interlocking) dihidupkan. "Kalau salah satu kunci sudah bekerja, sistem tidak akan mengalihkannya ke kunci yang lain," katanya. Artinya, jika ada kereta api yang masuk ke salah satu jalur, kereta yang lain tidak bisa masuk ke jalur yang sama. Sedangkan yang termasuk komponen di dalam ruang operator adalah prosesor untuk pengolahan sinyal yang berbasis PLC (programmable logic controller), sistem perkabelan, serta panel kendali tempat tombol-tombol, status sinyal, serta satu prosesor untuk mengendalikan sinyal. PLC ini berfungsi untuk mengatur dan mengendalikan sinyal masukan (input) dan keluaran (output).
Menurut Dodi Hidayat, secara keseluruhan, desain sistem sinyal mengacu pada sistem persinyalan yang sudah baku. Artinya, komponen yang ada di ruang operator dapat dihubungkan dengan segala macam peralatan lapangan. "Desain sistem sinyal ini multi-service, tidak tergantung pada salah satu merek sehingga dapat terkoneksi dengan peralatan lapangan merek apa saja," ucapnya. Ia menambahkan, sistem SIL-02 ini juga dilengkapi peranti lunak untuk mengendalikan interlocking sinyal. Uniknya, peranti lunak ini berbeda untuk tiap stasiun. Perbedaan ini, kata dia, disesuaikan dengan jumlah rel yang ada di setiap stasiun. "Makin besar stasiun dan jumlah relnya, maka harga sistem makin mahal," ujar Dodi. Menurut dia, peranti lunak yang dikembangkan mampu mendeteksi kesalahan. Sebab itulah, sistem sinyal elektrik yang dikembangkan memiliki dua prosesor. Fungsinya agar satu sama lain bisa saling mengecek kinerja sistem. "Prososer yang satu bisa mendeteksi jika ada kesalahan logika pada prososer yang lain," katanya. Kesalahan itu, menurut Dodi, dapat segera diketahui operator di stasiun karena sistem akan memberi alarm peringatan atau print out data.
Ia berharap, produk dalam negeri ini mampu menggantikan ketergantungan Indonesia dari industri pemasok. "Jika ada kerusakan, perawatannya mudah dan bisa cepat ditangani," katanya. Sejauh ini, ada tiga macam teknologi sistem persinyalan elektrik buatan luar negeri yang telah dipasang di Indonesia. Ketiganya, yakni Solid State Interlocking (SSI) buatan Prancis dan Inggris, Vital Processor Interlocking (VPI) buatan Amerika, serta Westinghouse Train Radio And Advance Control (Westrace) Interlocking buatan Australia, Amerika, Inggris, dan Spanyol. Karena diproduksi oleh pabrikan yang berbeda, peralatan interlocking mempunyai spesifikasi teknis yang berbeda pula. "Akibatnya," kata Dodi, "jika ada kerusakan pada peralatan interlocking atau komponen elektronik lainnya, sistem hanya dapat diperbaiki atau diganti oleh pabrik pembuatnya." Sejauh ini, sistem SSI telah dipasang pada jalur Jabotabek. Sedangkan sistem VPI digunakan pada jalur Bandung-Jakarta. Dan sistem Westrace Interlocking digunakan di jalur selatan, semisal Tasikmalaya, Banjar, dan Yogyakarta. Karenanya, LEN berharap, pihaknya diberi kesempatan untuk memugar sistem sinyal lebih dari 20 sistem. "Sebagai tahap awal, LEN mengusulkan agar sistem sinyal di jalur selatan diganti SIL-02," katanya. yandhrie arvian
Cara Kerja Pemrosesan Sinyal SIL-02
Inilah sistem sinyal elektrik (SIL-02) pertama untuk mengatur lalu lintas kereta api buatan lokal. Pada dasarnya, peralatan SIL-02 dapat dipilah menjadi dua bagian. Peralatan di luar ruangan (vital outdoor equipment) dan peralatan di dalam ruangan. Peralatan di dalam ruangan dapat dibagi menjadi vital area dan non vital area.
Peralatan di luar ruangan
- Lampu sinyal: Memberi tanda kapan kereta api dapat masuk stasiun atau ke luar stasiun.
- Sirkuit rel: Mengidentifikasi dan memberi informasi pada kilometer berapa posisi kereta api sedang melaju menuju stasiun
- Motor Wesel: Mengatur persimpangan jalur rel kereta api
- Peralatan di dalam ruangan (wilayah vital): Dua modul PLC (programmable logic controller): Fungsi dua prosesor agar satu sama lain bisa saling mengecek kinerja sistem jika ada kesalahan logika
- Pemancar vital: Mengirimkan data vital
- Panel PLC: Menyampaikan informasi pada panel kendali di ruang operator dan terminal teknisi Peralatan di ruang operator (wilayah tidak vital)
- Terminal teknisi: Merekam seluruh kondisi perjalanan kereta api
- Panel kendali (local control panel): Tempat tombol-tombol, satu prosesor sederhana untuk mengendalikan sinyal, serta status sinyal ditampilkan
Cara Kerja:
Kereta api yang tengah melaju pada kilometer tertentu diidentifikasi posisinya oleh sirkuit rel (track circuit). Hasil identifikasi disampaikan ke PLC PLC akan menyampaikan pemrosesan data ke terminal teknisi dan panel kendali di ruang operator Operator akan membuat sebuah perintah. Perintah itu akan disampaikan ke Pusat Pelayanan Kereta Api (PPKA) dan ke panel PLC. Perintah itu untuk mengaktifkan apakah lampu sinyal akan hijau atau merah, serta akan mengatur persimpangan jalur rel kereta api (motor wesel)
sumber : tempo.co.id
KRLMania Jalan – Jalan
Untuk memburu foto – foto seputar dunia per-Kereta Rel Listrik-an, beberapa anggota komunitas KRLMania sepakat untuk melakukan perjalanan kecil ke beberapa stasiun yang terletak di lintasan Kota – Jatinegara via Ps. Senen. Perjalanan kami mulai dari rumah masing – masing menuju titik kumpul di Stasiun Jakarta Kota. Peserta hunting foto kali ini adalah Om Bayu dan Om Erwin, roker Bojonggede, Om Anthony, roker Tangerang, Om Cahyo dan jagoan ciliknya, Irfan, roker Pondok Cina.
Perjalanan kami mulai dengan menumpang dengan karcis dan abunemen yang biasa kami pakai, karena Abunemen dan Karcis kami tertera : JAKARTA, dan batas Jakarta untuk lintasan Bekasi adalah sta Klender, demikian menurut Om Anthony. KRL Ekonomi berangkat tepat pukul 10.45 menuju stasiun Kramat (karena KRL Eko Jak - Bekasi sedang ada gangguan kita putuskan untuk menuju selatan dulu baru kembali ke utara). Beberapa meter selepas stasiun Kota sudah disuguhi pemnadangan unik berupa perkampungan yang padat. Sesampai di Sta Kp. Bandan kami juga cukup terhibur dengan bentuknya yang mengingatkan pada stasiun – stasiun di Jepang yang cukup rapi. Stasiun berikutnya ada Stasiun Rajawali yang unik, kemudian Stasiun Kemayoran yang cukup megah, lalu stasiun Pasar Senen yang ramai, Stasiun Kecil (pos perhentian) Gang Sentiong yang antik sampai Stasiun Kramat yang mulai berbenah.
Sesaat kami memburu foto2 di stasiun Kramat, ada pemandangan lain, Stasiun yang dulu peronnya masih rendah, sekarang sudah dimodifikasi tingginya biar selevel dengan bordes gerbong. Cuma sayangya panjang peron sama rangkaian 1 : 2 nih. Sehingga tim KRLMania harus loncat dari gerbong 5 ke tanah karena ga kebagian peron, termasuk si kecil Irfan. Karena waktu yang belum menunjukkan jam makan siang, plus menu yang kurang cocok untuk kesehatan, acara wisata kuliner ke Soto Kaki Mencos, sepakat dibatalkan.
Setelah puas mengambil beberapa foto kamipun menaiki KRL Ekonomi dari arah Bekasi dan turun di stasiun Gang Sentiong, sama saat kita landing di Sta siun Kramat, di sini kita juga harus loncat bak Spiderman mendarat di peron. Yang parahnya peron disini memang rendah dari ujung ke ujung. Di stasiun ini selain peron yang belum standar juga kita temukan lonceng antik yang sekarang sudah berganti dengan alarm penunjuk kereta akan lewat. Alarm antik ini masih bisa kita temui di stasiun – stasiun di lintasan rel Pantura mulai dari Cirebon sampai Surabaya.
Karena kebetulan perjalanan ini kami lakukan di penghujung waktu liburan sekolah, maka dengan terpaksa kami tidak menghampiri Stasiun Pasar Senen karena kepadatan pemudik dan arus balik yang cukup tinggi.
Hari mulai terik saat kami mengambil foto – foto di stasiun Kemayoran. Stasiun yang cukup megah dengan 4 jalur ini sudah memiliki peron yang standar. Kalau dilihat sekilas lebar peron hampir sama dengan peron Sta Citayam, cuma kok tidak seriuh Stasiun Citayam. Musholla stasiun ini pun terbilang cukup bersih dan rapi.
Selepas dari stasiun Kemayoran kamipun sampai di stasiun Rajawali. Stasiun ini memiliki persimpangan 4 jalur, 2 jalur arah Kota - Jatinegara, 2 jalur lagi arah Tg. Priok - Jatinegara. Stasiun yang hanya mempunyai shelter berukuran 3 x 4 meter di jalur ke arah Kota dan shleter 2 x 10 meter di jalur ke arah Bekasi inipun belum memiliki tinggi dan panjang peron yang standar Karena ada gangguan perjalanan KRL Ekonomi Jak - Bekasi jadi berantakan sehingga menyebabkan kami cukup lama menunggu rangkaian ke arah Jakarta, diumumkan kereta masih dalam perjalanan dari Cakung menuju Bekasi terlebih dahulu.
Perjalanan trekking dan hunting stasiun kecil lintas kota - jatinegara kami akhiri dengan ditemani beberapa piring nasi goreng dan beberapa mangkok soto di kedai Stasiun Kota tepat pukul 14.00.
Semua perjalanan tadi, kami lalui dengan menumpang KRL Ekonomi Jakarta - Bekasi yang tersedia hanya 4 rangkaian ulang - alik dan bekal karcis / abonemen klas ekonomi. Ternyata gangguan yang terjadi pada pagi hari disebabkan pula adanya kasus anak kecil tersengat listrik di atap gerbong KRL di daerah antara stasiun Klender - Jatinegara.
by the way, siapa sih KRLMania ? Klik aja link dibawah ini :
http://community.kompas.com/index.php?fuseaction=home.detail&id=18249§ion=94
atau
http://www.krlmania.com
ciao
(epf/nc/by/ant)
Wednesday, July 18, 2007
..musim gila bola....
Saat blog ini dibuat Tim Indonesia sedang beradu dengan Tim Negeri Ginseng Korea Selatan. Polytron vs LG nih....
Mudah2an bisa menang....
Thursday, July 12, 2007
Cilebut, stasiun kecil tapi besar
Stasiun terakhir di jurusan Jakarta - Bogor ini memang pesat sekali perkembangannya. Stasiun yang sudah ada sejak lintasan rel Batavia – Buitenzorg yang dibuka pada tahun 1873 ini, bukan hanya dari tahun ke tahun saja volume penumpangnya yang meningkat bahkan dari bulan ke bulan pun peningkatan tejadi cukup signifikan. Di medio Januari – Mar 2007 ini saja tercatat tidak kurang dari 600.000 penumpang naik turun di stasiun ini.
Hal ini dipertegas oleh Bp. Sutoyo selaku Kepala Stasiun Cilebut saat KRLMania bersilaturahmi ke stasiun ini. Untuk periode bulan Mei dimana volume penumpang ditargetkan sebesar 211.000 penumpang namun pada kenyataannya hampir lebih dari 317.000 penumpang dalam bulan tersebut memadati stasiun ini. “Kalau anda berada di Stasiun Cilebut pada jam 06.30 – 09.00 pagi serasa bukan ada di Cilebut deh”, ujar bapak satu anak ini.
Stasiun yang terletak di pinggir jalan propinsi antara Bojonggede – Bogor yang dilalui angkutan kota no. 07 jurusan Bojonggede – Ps. Anyar (Bogor) ini memang tidak pernah sepi oleh penumpang yang kebanyakan berasal dari penduduk sekitar dan beberapa perumahan baru yang sedang dan sudah dikembangkan oleh pengembangnya. Sebut saja Bumi Pertiwi, Perumahan RS Cipto Mangunkusumo, Pesona Cilebut, Griya Kencana, Villa Mutiara Bogor, Bukit Cimanggu City adalah beberapa perumahan yang mayoritas warganya menggunakan jasa KRL dari stasiun yang terletak 165 meter diatas permukaan laut ini.
Kereta Rel Listrik yang melayani rute Jakarta - Bogor kelas ekonomi merupakan alat transportasi favorit bagi para penglaju yang bekerja di Jakarta dan sekitarnya. Dengan ongkos Rp. 2000 anda sudah dapat menikmati perjalanan dari Cilebut – Jakarta Kota. Selain rangkaian KRL Ekonomi, tidak kurang ada 2 rangkaian KRL Ekspres yang BLB (berhenti luar biasa, berhenti secara resmi-red) di Cilebut, yang pertama dengan no. KA 201 A tujuan Tanah Abang yang berhenti pada pukul 05.46 WIB setiap hari kerja dan KA 209 tujuan Tanah Abang jam 07.26 WIB serta 1 rangkaian KRL Semi Ekspress jam. 08.47 WIB.
Dilihat dari perkembangan jumlah penumpang, salah satu roker Cilebut yang ikut berdialog dengan KRLMania dan KS Cilebut, menyampaikan usulan dari beberapa orang roker Cilebut yang juga pernah disampaikan langsung kepada Kasie Angkutan Penumpang PT KA Divisi Angkutan Perkotaan Jabotabek, yaitu keinginan adanya Pakuan Ekspress yang bisa BLB di Stasiun Cilebut ini. Rangkaian KRL Pakuan yang diusulkan adalah saat kepadatan stasiun ini mulai meningkat terutama di jam 06.00 – 06.30 pagi. Menanggapi usulan ini PTKA melalui KS Cilebut sedang menganalisa kira – kira rangkaian mana yang feasible (layak) untuk BLB di Stasiun Cilebut.
Dengan jumlah penumpang diatas, memang sudah saatnya Stasiun Cilebut berbenah diri. Fasilitas loket yang ada sekarang hanya ada 3 buah, 1 di Hall Stasiun, 1 di sebelah timur (seberang Hall stasiun) dan 1 buah lagi di sebelah selatan peron. Yang sangat disayangkan ada sebuah bangunan yang setengah jadi yang rencananya akan dijadikan loket di sebelah selatan yang belum dilanjutkan pembangunannnya. Ketika hal ini KRLMania tanyakan kepada Bp. Sutoyo, bapak yang pernah bertugas di sebagai KS di Stasiun Bogor, Gambir, Juanda, Pasar Minggu Baru dan Cawang ini menjelaskan mulai tahun 2007 ini pembangunan kan dilanjutkan dengan merevisi ukuran bangunannya. Diharapkan penumpang dari arah utara, yang kebanyakan penumpang dari Perumahan Bumi Pertiwi dan beberapa perumahan lainnya dapat lebih terlayani untuk pembelian tiket.
Kondisi di sekitar stasiun yang kami amati pun kiranya perlu mendapat perhatian lebih besar dari pihak Stasiun Cilebut, seperti jalan di depan stasiun yang rusak, pedagang kakilima yang menjamur di peron tunggu, lampu penerangan di sekitar peron stasiun dan juga keberadaan pengemis yang mangkal di dekat loket karcis.
Untuk masalah jalan yang rusak, menurut Bapak yang tinggal di Perumahan Griya Kencana, Bogor ini sudah lama dibicarakan dengan pihak terkait seperti kelurahan, pedagang disekitar jalan raya di depan stasiun maupun pengembang perumahan berada di sekitar stasiun tersebut. Kepada pihak pengembang dan pedagang di sekitar jalan raya, Bapak Sutoyo, selaku KS menghimbau agar memperhatikan drainase / saluran pembuangan dari kios ataupun perumahan yang ada. Diharapkan juga pihak Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Kelurahan Cilebut Barat memperbaiki kerusakan yang ada.
Sedangkan untuk memperindah lingkungan sekitar peron tunggu, pemasangan awning / penutup atap terhadap pedagang kakilima di dekat peron tunggu jurusan Bogor yang selama ini hanya menggunakan tenda plastik merupakan bagian dari rencana pihak Stasiun Cilebut. Kemudian, pihak Stasiun juga sudah melengkapi lampu sorot di sisi utara dan selatan, hanya sayangnya lampu fitras di atas jalur Listrik Aliran Atas (LAA) sudah lama mati dan belum diganti sampai saat ini karena diperlukan teknisi khusus untuk mengatasinya. Diharapkan seksi Teknik di Divisi AP Jabotabek dapat menindaklanjuti keluhan pihak Stasiun Cilebut ini. Hal lain yang mungkin sulit ditertibkan oleh pihak Stasiun adalah keberadaan pengemis yang ada di dekat loket karcis. Mungkin juga fasilitas yang harus dibenahi adalah kamar kecil atau WC yang saat ini hanya berjumlah 2 buah.
Pada saat KRLMania meliput stasiun ini, ada hal menarik yang mengundang tanya, yaitu keberadaan kios yang berjualan penganan goring – gorengan di sebelah kanan loket karcis yang berada di sebelah ruangan Kepala Stasiun dan Warung Telekomunikasi yang tepat berada di seberang loket utama di hall stasiun. Jika dapat direlokasi, tentunya kedua tempat tersebut dapat difungsikan sebagai loket ataupun fungsi penunjang stasiun lainnya, karena ruangan PPKA–nya sendiri berada di sebelah selatan.
Selain beberapa hal diatas, ada beberapa hal lain yang juga sempat kami diskusikan dengan Bapak Sutoyo yang saat kami temui ditemani oleh staf PPKA Cilebut, Bapak Ade, yaitu jumlah petugas Stasiun Cilebut yang berjumlah 14 orang ini masih dirasakan kurang efektif, apalagi jika nanti ada beberapa rangkaian KRL Pakuan yang BLB di stasiun tersebut dan kinerja petugas PT. Kencana Lima yang berjumlah 31 orang diharapkan dapat ditingkatkan wwenang dan tanggungjawabnya tidak hanya untuk pemeriksaan karcis saja, tetpai juga bisa untuk penertiban pedagang, membantu petugas PPKA atau loket dan lain sebagainya.
Kedepan, diharapkan stasiun ini dapat berkembang dan menunjang stasiun – stasiun terdekatnya maupun stasiun baru Sukaresmi yang akan dimulai pembangunannya.
(epf/yud)
